Guruku Pahlawanku
Bagi saya pendidikan adalah segalanya. Jika tidak memiliki pendidikan,
seseorang hanyalah ibaratkan secangkir gelas yang tidak terisikan air. Gelas
itu tidak memiliki tujuan untuk digunakan, sama dengan orang yang tidak
memiliki pendidikan. Dulu, saat saya masih di SMP, SMP saya adalah SMP yang
menurut orang banyak adalah sekolah terbaik di Provinsi tempat saya tinggal.
SMP saya banyak memenangi berbagai macam perlombaan yang diselenggarakan oleh
pemerintah maupun sekolah-sekolah se-Kabupaten, Provinsi, dan Nasional. Dan dibalik
semua itu pastinya ada orang-orang yang sangat berjasa, yang menjadikan semuanya itu
menjadi suatu kebanggaan, tahukah anda siapa orang – orang tersebut? Ya, benar.
Guru adalah yang berjasa atas semuanya itu. Tanpa guru, tidak ada seorang
Presiden di Indonesia, tidak ada seorang
ilmuwan yang menemukan suatu zat baru tanpa guru yang saat ilmuwan tersebut
masih kecil mengajarkan semua pengetahuan dasar kepada ilmuwan tersebut.
Saya sendiri adalah salah satu dari sekian banyak
anak-anak yang beruntung di dunia, kenapa? Karena saya
mempunyai seorang ayah yang berprofesi sebagai seorang guru. Saya bangga kepada
ayah saya yang telah mengajar murid-muridnya sampai murid-muridnya
ada yang menjadi seorang pengusaha ataupun anggota DPR, betapa besar jasanya.
Namun, dibalik semua itu ada satu hal yang telintas dibenak saya. Mengapa
tunjangan untuk guru tidak sebanding dengan tunjangan orang-orang
yang bekerja di kantoran? Di Jerman saja tunjangan untuk guru adalah tunjangan
terbesar kedua, mengapa di Indonesia tidak? Jerman sudah menyajari bahwa
penerus bangsa adalah hal yang terpenting untuk bangsanya oleh sebab itu Jerman
sanagat mengutamakan pendidikan dengan cara memperhatikan juga tenaga pengajar
dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas. Jika saya menjadi
pemimpin di masa depan nanti, mungkin saya akan menerapkan sistem ini.
Ayah saya hanyalah lulusan SPG
atau setingkat SMA dulunya, setelah itu langsung mengajar di salah satu sekolah
swasta di tempat tinggal saya dengan menjadi guru honorer selama kurang lebih
25 tahun. Gaji guru honorer pada saat itu tidaklah kurang dari satu juta yang
mungkin hanya cukup untuk keperluan makan sehari-hari. Namun
setelah 25 tahun menjadi guru honorer, ayah saya mengajukan diri untuk
mendapatkan beasiswa kuliah dari pemerintah demi melanjutan pendidikannya dan
akhirnya mendapatkannya. Itulah yang saya harapkan dari pemeritah, pemerintah
juga patut memperhatikan nasib para guru, khususnya guru – guru yang mungkin
sampai sekarang masih menjadi guru
honorer. Jangan hanya terus menerus memajukan perekonomian negara, perhatikan
juga nasib para guru di Indonesia. Memang benar bahwa pemerintah sudah cukup
membantu guru dengan memberikan sertifikasi setiap bulannya. Namun guru-guru
tersebut hanyalah guru – guru yang telah memiliki gelar S1, bagamana dengan
yang belum memilikinya? Yaitu guru – guru seperti guru honorer?
Pada dasarnya memang ada guru
yang benar-benar serius mengajari anak anak muridnya dan selalu datang tepat waktu ke
kelas namun ada juga yang tidak seperti itu. Yang saya lihat sekarang ini
adalah kebanyakan guru-guru yang tidak bertanggung jawab, yang dimaksudkan
adalah sang guru tersebut hanya datang ke kelas, mengisi jurnal kehadirannya,
memberikan tugas kepada muridnya, lalu pergi entah kemana. Dan dari pengamatan
saya juga bahwa guru-guru yang seperti ini adalah guru-guru di
sekolah negeri, bukan di sekolah swasta. Saya tidak mengerti mengapa hal ini terjadi,
yang seharusnya guru-guru sekolah negeri merupakan panutan, namun malah
berlaku demikian. Memang benar saya membandingkan antara guru sekolah swasta
dan guru sekolah negeri, dan pada dasarnya juga hal ini adalah kenyataan. Pada
saat saya di SD, saya bersekolah di SD swasta, pada saat saya sekolah di SD
tersebut saya tidak pernah mengalami yang namanya guru tidak ada dikelas
ataupun guru hanya memberikan tugas lalu pergi. Guru - guru tersebut dengan
setia menemani murid-murid dikelas dan menjawab segala pertanyaan yang
diberikan oleh muridnya. Namun semua hal itu berubah saat saya melanjutkan
sekolah di SMP negeri. Kondisi kelas sangat tidak kondusif. Kadang ada guru
yang tidak masuk kekelas dan tidak ada yang menggantikan ataupun memberikan
tugas. Akibatnya suasana kelas menjadi ribut dan murid tidak mendapatkan materi
pada hari itu. Jika guru tersebut masuk pula, kami hanya diberikan tugas dan
harus mengerjakannya sampai selesai, tidak ada komunikasi antara guru dan
murid.
Pemerintah Indonesia seharusnya
peka terhadap hal-hal seperti ini, dan saya sendiri sebagai seorang
pelajar tidak menyukainya karena hal-hal demikian bisa merugikan murid-muridnya
bahkan negara kita. Mengapa pemerintah Indonesia tidak membuat suatu sistem
yang dapat menertibkan hal-hal merugikan ini, seperti di daerah
Merauke yang menerapkan sistem bahwa guru dibayar ditempat setelah sang guru
selesai mengajar. Atau mungkin pemerintah bisa memperkerjakan seseorang yang
memiliki tugas tertentu sebagai pencatat kedatangan guru maupun menilai sang
guru saat di ruang kelas. Hal ini selain dapat menertibkan guru-guru,
juga bisa menurunkan tingkat pengangguran yang ada di Indonesia. Saya sangat
berharap kepada Pemerintah Indonesia agar permasalahan ini dapat diselesaikan
secepatnya sehingga negara kita memiliki generasi penerus yang dapat mengubah
negara kita lebih baik dari sebelumnya.
Ada satu hal lagi yang membuat
generasi penerus bangsa terhalangi untuk mengeluarkan ide-idenya,
yaitu tidak tersedianya fasilitas-fasilitas yang memadai untuk
menunjang kegiatan-kegiatannya disekolah. Dan salah satunya yang
mengalami hal ini dalah saya sendiri. Disekolah saya, fasilitas yang menunjang
kegiatan siswa sangatlah minim. Banyak sekali teman-teman
saya yang memiliki bakat namun tidak dapat tersalurkan bakatnya karena
fasilitas yang tidak memadai ataupun tidak tersedia. Mereka mengeluhkan hal ini,
meskipun sudah banyak teman-teman saya yang mengajukan hal ini
kepada sekolah, namun sekolah hanya menganggap remeh akan hal ini dan tidak
segera tanggap mengambil keputusan. Apakah
ini yang disebut sebagai sekolah? Yaitu tempat dimana calon penerus bangsa
menggali ilmu untuk memajukan negara kita di masa depan? Coba saja fasilitas
sangat tersedia, seperti sekolah-sekolah swasta yang kebanyakan
memiliki banyak fasilitas yang menunjang kegiatan murid-muridnya,
saya yakin Indonesia akan menjadi negara yang maju nantinya karena semua
kebutuhan murid -muridnya terpenuhi dan semua ide-idenya
tidak terbuang sia-sia.
Dan ada satu hal lagi yang
mengganjal di pikiran saya, yaitu kurikulum yang ada di Indonesia. KTSP atau
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Dengan kurikulum ini pemerintah menciptakan
banyak sekali anak-anak Indonesia yang memenangi banyak Olimpiade
Internasional. Namun, apakah itu yang dibutuhkan pelajar Indonesia? Dengan
hanya menghafalkan teori teori tanpa menerapkannya? Coba anda pikirkan, mungkin
hal inilah yang selama ini menyebabkan banyak sekali masyarakat Indonesia yang
menjadi pengangguran, karena mereka tidak bisa menerapkan tapi hanya bisa
menghafalkan. Hal ini berbeda sekali dengan kurikulum yang berada di luar Indonesia.
Mereka lebih mementingkan menerapkan daripada menghafalkan. Oleh sebab itu banyak negara-negara luar yang
tidak memenangi Olimpiade Internasional namun kebanyakan adalah Indonesia. Coba
anda pikirkan kata-kata saya diatas dan resapi. Negera-negara
di luar Indonesia mampu menerapkan pelajaran-pelajaran tidak lain adalah juga
karena mereka didukung oleh fasilitas yang lengkap. How about Indonesia?
(Bagaimana dengan Indonesia?)
Jadi, menurut saya pendidikan,
fasilitas, dan kurikulum sangatlah penting di di Indonesia. Pendidikan di Indonesia sekarang
ini membutuhkan guru-guru yang berkualitas dan juga memiliki
karakter yang baik. Guru-guru harus memiliki keinginan untuk
memajukan Indonesia di dalam dirinya agar disaat mereka mengajar, mereka mengajar
dengan serius dan memberikan semua ilmu-ilmunya
kepada murid-muridnya. Dan untuk menunjang semua itu,
dibutuhkan pula fasilitas yang lengkap agar sang guru dapat menyampaikan materi
pelajaran dengan sejelas-jelasnya. Kurikulum yang berkualitas pun dibutuhkan
agar sang guru dapat memberikan materi-materi pelajaran yang bermutu kepada
murid-muridnya sebagai modal dalam menunjang kemajuan pendidikan Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar