Pages

Kamis, 08 November 2012

Guruku Pahlawanku


Guruku Pahlawanku





    Bagi saya pendidikan adalah segalanya. Jika tidak memiliki pendidikan, seseorang hanyalah ibaratkan secangkir gelas yang tidak terisikan air. Gelas itu tidak memiliki tujuan untuk digunakan, sama dengan orang yang tidak memiliki pendidikan. Dulu, saat saya masih di SMP, SMP saya adalah SMP yang menurut orang banyak adalah sekolah terbaik di Provinsi tempat saya tinggal. SMP saya banyak memenangi berbagai macam perlombaan yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun sekolah-sekolah se-Kabupaten, Provinsi, dan Nasional. Dan dibalik semua itu pastinya ada orang-orang yang sangat berjasa, yang menjadikan semuanya itu menjadi suatu kebanggaan, tahukah anda siapa orang – orang tersebut? Ya, benar. Guru adalah yang berjasa atas semuanya itu. Tanpa guru, tidak ada seorang Presiden di Indonesia,  tidak ada seorang ilmuwan yang menemukan suatu zat baru tanpa guru yang saat ilmuwan tersebut masih kecil mengajarkan semua pengetahuan dasar kepada ilmuwan tersebut.

Saya sendiri adalah salah satu dari sekian banyak anak-anak yang beruntung di dunia, kenapa? Karena saya mempunyai seorang ayah yang berprofesi sebagai seorang guru. Saya bangga kepada ayah saya yang telah mengajar murid-muridnya sampai murid-muridnya ada yang menjadi seorang pengusaha ataupun anggota DPR, betapa besar jasanya. Namun, dibalik semua itu ada satu hal yang telintas dibenak saya. Mengapa tunjangan untuk guru tidak sebanding dengan tunjangan orang-orang yang bekerja di kantoran? Di Jerman saja tunjangan untuk guru adalah tunjangan terbesar kedua, mengapa di Indonesia tidak? Jerman sudah menyajari bahwa penerus bangsa adalah hal yang terpenting untuk bangsanya oleh sebab itu Jerman sanagat mengutamakan pendidikan dengan cara memperhatikan juga tenaga pengajar dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas. Jika saya menjadi pemimpin di masa depan nanti, mungkin saya akan menerapkan sistem ini.
Ayah saya hanyalah lulusan SPG atau setingkat SMA dulunya, setelah itu langsung mengajar di salah satu sekolah swasta di tempat tinggal saya dengan menjadi guru honorer selama kurang lebih 25 tahun. Gaji guru honorer pada saat itu tidaklah kurang dari satu juta yang mungkin hanya cukup untuk keperluan makan sehari-hari. Namun setelah 25 tahun menjadi guru honorer, ayah saya mengajukan diri untuk mendapatkan beasiswa kuliah dari pemerintah demi melanjutan pendidikannya dan akhirnya mendapatkannya. Itulah yang saya harapkan dari pemeritah, pemerintah juga patut memperhatikan nasib para guru, khususnya guru – guru yang mungkin sampai sekarang  masih menjadi guru honorer. Jangan hanya terus menerus memajukan perekonomian negara, perhatikan juga nasib para guru di Indonesia. Memang benar bahwa pemerintah sudah cukup membantu guru dengan memberikan sertifikasi setiap bulannya. Namun guru-guru tersebut hanyalah guru – guru yang telah memiliki gelar S1, bagamana dengan yang belum memilikinya? Yaitu guru – guru seperti guru honorer?
Pada dasarnya memang ada guru yang benar-benar serius mengajari anak anak muridnya dan selalu datang tepat waktu ke kelas namun ada juga yang tidak seperti itu. Yang saya lihat sekarang ini adalah kebanyakan guru-guru yang tidak bertanggung jawab, yang dimaksudkan adalah sang guru tersebut hanya datang ke kelas, mengisi jurnal kehadirannya, memberikan tugas kepada muridnya, lalu pergi entah kemana. Dan dari pengamatan saya juga bahwa guru-guru yang seperti ini adalah guru-guru di sekolah negeri, bukan di sekolah swasta. Saya tidak mengerti mengapa hal ini terjadi, yang seharusnya guru-guru sekolah negeri merupakan panutan, namun malah berlaku demikian. Memang benar saya membandingkan antara guru sekolah swasta dan guru sekolah negeri, dan pada dasarnya juga hal ini adalah kenyataan. Pada saat saya di SD, saya bersekolah di SD swasta, pada saat saya sekolah di SD tersebut saya tidak pernah mengalami yang namanya guru tidak ada dikelas ataupun guru hanya memberikan tugas lalu pergi. Guru - guru tersebut dengan setia menemani murid-murid dikelas dan menjawab segala pertanyaan yang diberikan oleh muridnya. Namun semua hal itu berubah saat saya melanjutkan sekolah di SMP negeri. Kondisi kelas sangat tidak kondusif. Kadang ada guru yang tidak masuk kekelas dan tidak ada yang menggantikan ataupun memberikan tugas. Akibatnya suasana kelas menjadi ribut dan murid tidak mendapatkan materi pada hari itu. Jika guru tersebut masuk pula, kami hanya diberikan tugas dan harus mengerjakannya sampai selesai, tidak ada komunikasi antara guru dan murid.
Pemerintah Indonesia seharusnya peka terhadap hal-hal seperti ini, dan saya sendiri sebagai seorang pelajar tidak menyukainya karena hal-hal demikian bisa merugikan murid-muridnya bahkan negara kita. Mengapa pemerintah Indonesia tidak membuat suatu sistem yang dapat menertibkan hal-hal merugikan ini, seperti di daerah Merauke yang menerapkan sistem bahwa guru dibayar ditempat setelah sang guru selesai mengajar. Atau mungkin pemerintah bisa memperkerjakan seseorang yang memiliki tugas tertentu sebagai pencatat kedatangan guru maupun menilai sang guru saat di ruang kelas. Hal ini selain dapat menertibkan guru-guru, juga bisa menurunkan tingkat pengangguran yang ada di Indonesia. Saya sangat berharap kepada Pemerintah Indonesia agar permasalahan ini dapat diselesaikan secepatnya sehingga negara kita memiliki generasi penerus yang dapat mengubah negara kita lebih baik dari sebelumnya.
Ada satu hal lagi yang membuat generasi penerus bangsa terhalangi untuk mengeluarkan ide-idenya, yaitu tidak tersedianya fasilitas-fasilitas yang memadai untuk menunjang kegiatan-kegiatannya disekolah. Dan salah satunya yang mengalami hal ini dalah saya sendiri. Disekolah saya, fasilitas yang menunjang kegiatan siswa sangatlah minim. Banyak sekali teman-teman saya yang memiliki bakat namun tidak dapat tersalurkan bakatnya karena fasilitas yang tidak memadai ataupun tidak tersedia. Mereka mengeluhkan hal ini, meskipun sudah banyak teman-teman saya yang mengajukan hal ini kepada sekolah, namun sekolah hanya menganggap remeh akan hal ini dan tidak segera tanggap mengambil keputusan.  Apakah ini yang disebut sebagai sekolah? Yaitu tempat dimana calon penerus bangsa menggali ilmu untuk memajukan negara kita di masa depan? Coba saja fasilitas sangat tersedia, seperti sekolah-sekolah swasta yang kebanyakan memiliki banyak fasilitas yang menunjang kegiatan murid-muridnya, saya yakin Indonesia akan menjadi negara yang maju nantinya karena semua kebutuhan murid -muridnya terpenuhi dan semua ide-idenya tidak terbuang sia-sia.
Dan ada satu hal lagi yang mengganjal di pikiran saya, yaitu kurikulum yang ada di Indonesia. KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Dengan kurikulum ini pemerintah menciptakan banyak sekali anak-anak Indonesia yang memenangi banyak Olimpiade Internasional. Namun, apakah itu yang dibutuhkan pelajar Indonesia? Dengan hanya menghafalkan teori teori tanpa menerapkannya? Coba anda pikirkan, mungkin hal inilah yang selama ini menyebabkan banyak sekali masyarakat Indonesia yang menjadi pengangguran, karena mereka tidak bisa menerapkan tapi hanya bisa menghafalkan. Hal ini berbeda sekali dengan kurikulum yang berada di luar Indonesia. Mereka lebih mementingkan menerapkan daripada menghafalkan. Oleh sebab itu  banyak negara-negara luar yang tidak memenangi Olimpiade Internasional namun kebanyakan adalah Indonesia. Coba anda pikirkan kata-kata saya diatas dan resapi. Negera-negara di luar Indonesia mampu menerapkan pelajaran-pelajaran tidak lain adalah juga karena mereka didukung oleh fasilitas yang lengkap. How about Indonesia? (Bagaimana dengan Indonesia?)
Jadi, menurut saya pendidikan, fasilitas, dan kurikulum sangatlah penting di di Indonesia. Pendidikan di Indonesia sekarang ini membutuhkan guru-guru yang berkualitas dan juga memiliki karakter yang baik. Guru-guru harus memiliki keinginan untuk memajukan Indonesia di dalam dirinya agar disaat mereka mengajar, mereka mengajar dengan serius dan memberikan semua ilmu-ilmunya kepada murid-muridnya. Dan untuk menunjang semua itu, dibutuhkan pula fasilitas yang lengkap agar sang guru dapat menyampaikan materi pelajaran dengan sejelas-jelasnya. Kurikulum yang berkualitas pun dibutuhkan agar sang guru dapat memberikan materi-materi pelajaran yang bermutu kepada murid-muridnya sebagai modal dalam menunjang kemajuan pendidikan Indonesia.



Rabu, 17 Oktober 2012


Mitos 350 Tahun Penjajahan
Tak ada sejengkal pun wilayah Nusantara dijajah Belanda sampai tiga setengah abad.

OLEH: JOSS WIBISONO/KONTRIBUTOR, AMSTERDAM
 
 
SEBAGAI orang yang nyaris 25 tahun menetap di Belanda, saya sering ditanya tentang masa lampau Belanda di Indonesia. Ada pertanyaan menarik seperti adakah bekas-bekas masa lampau itu terlihat di Belanda? Ada pula pernyataan langsung seperti “Apakah Belanda sampai 350 tahun menjajah Indonesia?” Bagi saya, itu tidak terlalu menarik.
Apakah benar Belanda menjajah selama itu?
Ayo kita hitung. Apakah kita harus bersetuju bahwa Belanda mulai menjajah Indonesia bersamaan dengan berdirinya VOC pada 1602? Mungkin karena tidak tahu versi angka tahun lain, biasanya langsung dijawab setuju.  Ada pula versi yang mengatakan penjajahan dimulai pada 1596, ketika kakak beradik De Houtman tiba di Banten. Tapi itu pun sulit disebut sebagai awal penjajahan Belanda, karena Cornelis de Houtman cuma melakukan penjajakan. Belanda belum benar-benar menjajah. Jika awal penjajahan tahun 1602 ditambah 350, kita baru merdeka pada 1952. Bagaimana dengan proklamasi 17 Agustus 1945 dan pengakuan Belanda pada kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949?
Sebenarnya banyak sekali dampak buruk kolonialisme Belanda di Indonesia. Tapi, mengapa kita selalu menekankan lamanya kolonialisme yang justru tidak benar itu? Ini bukti betapa kita benar-benar buta sejarah, selain akibat ulah Orde Baru menghapus sejarah, mereduksinya hanya sebagai angka tahun dan peristiwa belaka. Sejarah sebagai narasi tentang perubahan, pergeseran dan perkembangan pemikiran tetap asing bagi kita.
Bagaimana sebaiknya melihat penjajahan Belanda serta pelbagai macam aspek negatifnya? Pernyataan “Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun” mengandung banyak ketidakbenaran dan salah persepsi. Tidak ada satu pun wilayah Indonesia yang benar-benar dijajah selama 350 tahun. Maluku dan Banten/Jakarta sebagai markas besar VOC mengalami penjajahan maksimal selama 340 tahun. Bahkan Maluku atau Ambon baru Belanda kuasai pada 1630, kalau dihitung dari 1602 sampai 1942 ketika Jepang masuk, Belanda jelas sudah tidak efektif lagi menguasai Nusantara.
Selain Banten/Jakarta dan Maluku, Belanda bertahap menundukkan wilayah-wilayah Nusantara. Kebanyakan baru berlangsung pada abad ke-20 ketika kolonialismenya bercorak Politik Etis. Sisi lain Politik Etis yang bertujuan mendidik kaum inlanders, oleh orang Belanda disebut sebagai pacificatie, gampangnya penaklukan wilayah-wilayah luar Jawa. Aceh baru ditaklukkan pada 1904 –bahkan Belanda baru sepenuhnya berkuasa pada 1912–, dan Bali dikuasai pada 1906. Dengan begitu Aceh maksimal dijajah Belanda selama 38 tahun dan Bali selama 36 tahun.
Artinya, kita tidak bisa pukul rata bahwa seluruh wilayah Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun. Kalau itu tetap dilakukan, kita akan keliru memahami perjuangan orang-orang Aceh dan Bali yang mempertahankan wilayahnya dari pendudukan Belanda. Kita juga akan salah memahami kepahlawanan Tjoet Njak Dien, karena dia mati-matian mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Aceh. Bukan karena Tjoet Njak memberontak terhadap (penjajahan) Belanda. Waktu itu, Aceh belum dikuasai Belanda. Sampai akhir abad ke-19 Aceh merupakan sebuah negara berdaulat, bahkan memiliki duta besar di Turki. Bukankah dengan menganggap Indonesia dikuasai Belanda selama 350 tahun berarti kita juga menganggap Aceh sudah lama dikuasai Belanda, sehingga Kesultanan Aceh dan perlawanan Tjoet Njak Dien kehilangan maknanya.
Kesalahan lain adalah menyebut “Indonesia”. Seolah-olah Indonesia sudah lama ada dan dijajah Belanda selama 350 tahun. Indonesia baru lahir pada 17 Agustus 1945. Sebelum itu adalah Hindia Belanda, dan sebelumnya pada abad ke-19 adalah Kesultanan Aceh, Kerajaan Bone, Kerajaan Klungkung, dan lain-lain. Indonesia sebagai sebuah negara, belum ada.
Ada pula pendapat yang menampilkan Belanda sebagai penjajah yang tidak mengalami perubahan dalam kurun waktu tiga setengah abad. Ini jelas tidak benar. Yang mulai menjajah sebenarnya adalah sebuah perusahaan multinasional bernama VOC atau gampangnya Kumpeni. Selama abad 17 dan 18, Belanda merupakan republik. Ketika VOC bangkrut, jajahannya diambil alih oleh Belanda yang masih belum bercorak monarki. Kemudian muncul apa yang disebut interregnum (penguasaan sela) Inggris pada awal abad ke-19 dengan Sir Thomas Stanford Raffles sebagai gubernur jenderal. Pada waktu itu Belanda sendiri dijajah oleh Napoléon.
Ketika Belanda merdeka dari jajahan Prancis dan berubah menjadi kerajaan serta Inggris mengembalikan Nusantara, Belanda benar-benar menguasai Indonesia pada 1813. Tak lama kemudian dengan memberlakukan Tanam Paksa, alam dan rakyat Jawa langsung dijadikan sapi perahan. Sebagai kerajaan, wilayah Belanda masih mencakup wilayah Belgia. Keduanya masih satu kerajaan. Bahkan salah satu gubernur Hindia Belanda pada awal abad ke-19, Leonard du Bus de Gisignies, adalah orang Belgia. Jangan-jangan ini berarti kita juga pernah dijajah Belgia? Pada 1830 Belanda kembali mengalami perubahan karena Belgia memisahkan diri.
Nah, kalau hanya menyebut Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun, selain jangka waktu itu salah, pelbagai perubahan penting yang terjadi di Belanda selama kurun waktu tiga setengah abad akan luput dari sudut pandang kita. Bagaimana membicarakan kolonialisme Belanda tanpa terjebak dalam pelbagai kesalahan tadi? Jangan khawatir: tanpa menyebut durasinya, kita masih tetap bisa menuding banyak keburukan kolonialisme Belanda di Indonesia. Salah satunya, dan ini jarang sekali diungkap orang adalah Tanam Paksa.
Orang Belanda sendiri mengakui betapa Tanam Paksa merupakan cara menyedot kekayaan dari wilayah jajahan. Bahkan sampai Cees Fasseur pun, sejarawan konservatif Belanda, mengakui hal itu. Katanya, berkat apa yang disebut Indische baten (keuntungan Hindia), Belanda bisa membangun jaringan kereta api yang sampai sekarang masih dipergunakan. Demikian pula dua jalan air penting Belanda, Noordzeekanaal dan de Nieuwe Waterweg, dibangun dengan keuntungan Hindia itu.
Anehnya, walaupun sudah mengakui keburukan Tanam Paksa, orang Belanda tetap saja menggunakan istilah Cultuurstelsel yang tak lain adalah bahasa pejabat pada abad ke-19 ketika politik memaksa petani Jawa ini dilancarkan. Ini juga bisa kita tudingkan pada mereka. Kalau sudah tahu buruknya, mengapa tidak menggunakan istilah Tanam Paksa saja yang dalam bahasa Belandanya adalah gedwongen coffieteelt? Di Belanda, baru Jan Breman yang menggunakan istilah ini. Pakar sosiologi pedesaan ini sekarang terlibat dalam polemik sengit dengan Cees Fasseur soal Tanam Paksa. Fasseur berpendapat, walaupun dirugikan, tapi petani Jawa masih sedikit memperoleh manfaat Tanam Paksa ketika hasil panen mereka dijual ke pasar internasional.
Breman tidak setuju, integrasi ke pasar dunia itu menurutnya malah memiskinkan. Mengutip seorang pejabat kolonial yang mbalelo, Breman dalam buku terbarunya mengenai Tanam Paksa di Pasundan menulis bahwa petani Zeeland (Belanda tenggara) pasti tidak akan mau kalau hasil panennya dijual di bawah harga pasar. Lebih dari itu, pelbagai pembatasan lain yang diterapkan penguasa kolonial terhadap warga beberapa desa Pasundan pada abad ke-18 merupakan semacam laboratorium untuk mengembangkan apartheid yang pada abad ke-20 berlaku di Afrika Selatan.
Hal lain yang bisa kita tudingkan ke hidung orang Belanda adalah kenyataan bahwa mereka tidak pernah mengakui proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Bagi Belanda, Indonesia baru merdeka pada 27 Desember 1949, ketika Den Haag menyerahkan (bagi kita mengakui) kedaulatan Republik Indonesia Serikat dalam sebuah upacara di Istana De Dam, Amsterdam. Beda lima tahun itu adalah upaya gagal mereka merebut kembali Indonesia yang sudah memproklamasikan kemerdekaannya. Baru pada 2005, ketika hari ulang tahun proklamasi ke-60, Menteri Luar Negeri Belanda Bernard Bot hadir pada upacara detik-detik proklamasi. Sebagai menlu pertama Belanda yang hadir pada upacara itu, dia menyatakan mengakui secara moral proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Pernyataan ini tidak tegas dan sangat mengambang.
Apa maksudnya “mengakui secara moral” itu? Mengapa tidak langsung saja mengakui proklamasi kemerdekaan kita? Ada yang menafsirkan ucapan semacam ini tidak lebih dari tameng untuk melindungi negara (tentu saja negara Belanda) dari kemungkinan tuntutan pengadilan yang diajukan kalangan bekas pegawai negeri Hindia Belanda. Selama penjajahan Jepang misalnya pemerintah Belanda tidak menggaji mereka lagi. Padahal mereka belum dipecat sebagai pegawai negeri. Dihalangi oleh kemungkinan-kemungkinan semacam ini Belanda pada akhirnya tidak pernah bisa tegas dan jelas dalam berhubungan dengan Indonesia. Rasanya seperti maju kena, mundur kena.
Melalui dua contoh di atas –sebenarnya contoh itu masih banyak– kita diajak untuk melek sejarah supaya paham, sadar dan bisa menerima bahwa dalam sejarah tidak ada yang statis dan tidak berubah. Indonesia baru lahir setelah Proklamasi 17 Agustus, sebelum itu Indonesia adalah Hindia Belanda yang dijajah Belanda. Tetapi selama penjajahan itu banyak terjadi perubahan dan itu bukan hanya berlangsung di Hindia Belanda melainkan juga di Belanda.
Sekarang Indonesia sudah merdeka, akankah perubahan itu berhenti seperti sering kita dengar dalam slogan NKRI harga mati? Silakan memikirkan dan menjawabnya sendiri. Yang jelas Timor Timur sekarang sudah jadi Timor Leste, itu karena Orde Baru sudah jatuh. Mungkinkah kita menghentikan perubahan. Yang pasti, sejarah sebagai penjelas masa kini yang juga berarti perubahan, pergeseran dan perkembangan pemikiran tetap asing bagi kita.

Sumber:
http://historia.co.id/artikel/2/656/Majalah-Historia/Mitos_350_Tahun_Penjajahan

Senin, 15 Oktober 2012

Funny Exam Answer

Inilah kumpulan hasil karya Anak-anak yang kurang bertanggung jawab dengan tugasnya untuk menjawab soal,  tapi apabila di pikir-pikir lucu juga bisa jadi bahan ketawaan. Tapi satu pesan Kang Hedi ''JANGAN MENIRU ADEGAN INI"

Sumber:
http://juragankacep.blogspot.com/2012/04/funny-exam-answer.html

Perbandingan Antara Bahasa Indonesia dan Malaysia

INDONESIA : Kementerian Hukum dan HAM
MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh

INDONESIA : Kementerian Agama
MALAYSIA : Kementerian Tak Berdosa

INDONESIA : Angkatan Darat
MALAYSIA : Laskar Hentak-Hentak Bumi

INDONESIA : Angkatan Udara
MALAYSIA : Laskar Angin-Angin

INDONESIA : ‘Pasukaaan bubar jalan!!!’
MALAYSIA : ‘Pasukaaan cerai berai!!!’

INDONESIA : Merayap
MALAYSIA : Bersetubuh dengan bumi

INDONESIA : Rumah sakit bersalin
MALAYSIA : Hospital korban lelaki

INDONESIA : Telepon selular
MALAYSIA : Talipon bimbit

INDONESIA : Pasukan terjun payung
MALAYSIA : Askar begayut

INDONESIA : Belok kiri, belok kanan
MALAYSIA : Pusing kiri, pusing kanan

INDONESIA : Departemen Pertanian
MALAYSIA : Departemen Cucuk Tanam

INDONESIA : 6.30 = Jam setengah tujuh
MALAYSIA : 6.30 = Jam enam setengah

INDONESIA : Gratis bicara 30 menit
MALAYSIA : Percuma berbual 30 minit

INDONESIA : Tidak bisa
MALAYSIA : Tak boleh

INDONESIA : WC
MALAYSIA : Tandas

INDONESIA : Satpam/sekuriti
MALAYSIA : Penunggu Maling

INDONESIA : Aduk
MALAYSIA : Kacau

INDONESIA : Diaduk hingga merata
MALAYSIA : Kacaukan tuk datar

INDONESIA : 7 putaran
MALAYSIA : 7 pusingan

INDONESIA : Imut-imut
MALAYSIA : Comel benar

INDONESIA : Pejabat negara
MALAYSIA : Kaki tangan negara

INDONESIA :Bertengkar
MALAYSIA : Bertumbuk

INDONESIA : Pemerkosaan
MALAYSIA : Perogolan

INDONESIA : Pencopet
MALAYSIA : Penyeluk Saku

INDONESIA : Joystick
MALAYSIA : Batang senang

INDONESIA : Tidur siang
MALAYSIA : Petang telentang

INDONESIA : Air Hangat
MALAYSIA : Air Suam

INDONESIA : Terasi
MALAYSIA : Belacan

INDONESIA : Pengacara
MALAYSIA : Peguam

INDONESIA : Sepatu
MALAYSIA : Kasut

INDONESIA : Ban
MALAYSIA : Tayar

INDONESIA : Remote
MALAYSIA : Kawalan jauh

INDONESIA : Kulkas
MALAYSIA : Peti sejuk

INDONESIA : Chatting
MALAYSIA : Bilik berbual

INDONESIA : Rusak
MALAYSIA : Tak sihat

INDONESIA : Keliling kota
MALAYSIA : Pusing pusing ke bandar

INDONESIA : Tank
MALAYSIA : Kereta kebal

INDONESIA : Kedatangan
MALAYSIA : Ketibaan

INDONESIA : Bersenang-senang
MALAYSIA : Berseronok

INDONESIA : Bioskop
MALAYSIA : Panggung wayang

INDONESIA : Rumah sakit jiwa
MALAYSIA : Gubuk Gila

INDONESIA : Dokter ahli jiwa
MALAYSIA : Dokter Gila

INDONESIA : Narkoba
MALAYSIA : Dadah

INDONESIA : Pintu darurat
MALAYSIA : Pintu kecemasan

INDONESIA : Hantu pocong
MALAYSIA : Hantu Bungkus
Sumber:
http://juragankacep.blogspot.com/2012/10/perbandingan-antara-bahasa-indonesia.html

Kamis, 11 Oktober 2012

Bukti Bahwa Bahasa Indonesia Lebih Simpel Dari Inggris

In English : "Would you care to validate your previous statement?"
In Indonesian : "SUMPE LO?!

In English : "Sorry, I think you miscalculated your own capabilities to handle the task at hand."
In Indonesian : "Nenek lu kiper!

In English : "Would you care to elaborate on that statement?"
In Indonesian : "MAKSUD LOH?!"

In English : "There's a 75% chance I won't make it, I'm far too busy for ur stupid event."
In Indonesian : "Insya'allah gw dateng!"

In English : "The meeting will start at 9:15 AM. Please be there 15 minutes beforehand."
In Indonesian : "Rapatnya jam 8!"

In English :"Let's try this new scam and see if those carbo-ladden brains buy it"
In Indonesian : "Mama minta pulsa"

In English : "Please stop by our outlet. There might be stuff you'll find interesting."
In Indonesian : "Giordanonya, Kakaaak!"

In English : "I've stumbled upon something that might be of interest to you. You might find it useful."
In Indonesian : "CEKIDOT GAN!"

In English : "I'm so overwhelmed by this turn of event that I'm speechless and in awe."
In Indonesian : "ANJROT!"

In English : "This is a very interesting topic that everybody should stay updated about this."
In Indonesian : "Sundul, Gan!"

In English : "I definitely won't make it. You guys go and have fun without me."
In Indonesian : "Ntar gue nyusul."

In English : "You're absolutely, positively 100% correct. But I knew that already."
In Indonesian : "EMBEER!"

In English : "That's so profound. I can't contribute anything further but I need to say something to sound equally smart."
In Indonesian : "Dalem."
 
Sumber:
http://hermawayne.blogspot.com/2010/10/bukti-kalau-bahasa-indonesia-lebih.html 

Cara Gampang Membedakan Uang Asli dan Palsu


Banyaknya pemalsuan uang di negara kita mengharuskan kita waspada. Berikut ini ada beberapa tips untuk menguji keaslian uang Rupiah dengan cara mudah:

Untuk lembaran Rp.100.000,- versi Proklamator RI

1. Lipat menjadi 4 bagian secara memanjang
2. Tekan uang tersebut dengan tekanan secukupnya
3. Buka perlahan-lahan lipatan uang tsb
4. Bila kacamata Bung Hatta pecah berarti palsu, dan bila tidak, berarti asli

Untuk lembaran Rp. 50.000,- versi W.R. Supratman

Periksa teks lagunya, kalau bukan Indonesia Raya, pasti palsu.

Untuk lembaran Rp. 50.000,- versi Soeharto

1. Lipat menjadi 2 sama besar
2. Gesek-gesekkan ke bagian tubuh kita yang ada lipatannya (misalnya:ketiak. Boleh juga bagian lipatan-lipatan yang lain, yang penting ada keringatnya)
3. Kalo Pak Hartonya gak patheken, berarti asli. kalo patheken, berarti emang kitanya aja yang jarang mandi

Untuk lembaran Rp. 20.000,- versi burung Cenderawasih

Usap-usap gambar burung Cenderawasih tersebut dengan lembut. Kalo burungnya jadi gede, berarti palsu, kalo diem aja, berarti udah mati rasa.

Untuk lembaran Rp. 10.000,- versi Cut Nyak Dien

1. Lipat menjadi 4 bagian secara memanjang
2. Tekan uang tersebut dengan tekanan secukupnya
3. Kalau uangnya jadi basah karena kawahnya tumpah, berarti palsu, atau kalau konde Cut Nyak Dien lepas, berarti palsu juga.

Untuk lembaran Rp. 5.000,- versi Imam Bonjol

Ambil pisau cukur di rumah, kemudian gesekkan pada uang tersebut. Apabila jenggot Imam Bonjol rontok, berarti palsu, apabila tambah panjang, berarti palsu juga.

Untuk lembaran Rp. 1.000,- versi mana saja

Cari SD Negeri terdekat, cukup taruh di trotoar depan sekolah, kalau hilang berarti asli.

Untuk lembaran Rp. 500,- versi Orang Utan

1. Lipat menjadi 4 bagian secara memanjang
2. Tekan uang tersebut dengan tekanan secukupnya
3. Kalo orang utannya teriak-teriak berarti palsu, kalo tidak, berarti asli

Untuk lembaran Rp. 100,- juga versi yang mana aja

Mau diapa-apain juga, yakin dah kalo lembaran seratus Rupiah ini sudah pasti asli. Goblok namanya kalo ada orang nekat memalsu duit yang buat bayar WC umum aja kagak cukup.

Sumber:
http://hermawayne.blogspot.com/2009/02/cara-gampang-membedakan-uang-asli.html