Pages

Kamis, 08 November 2012

Guruku Pahlawanku


Guruku Pahlawanku





    Bagi saya pendidikan adalah segalanya. Jika tidak memiliki pendidikan, seseorang hanyalah ibaratkan secangkir gelas yang tidak terisikan air. Gelas itu tidak memiliki tujuan untuk digunakan, sama dengan orang yang tidak memiliki pendidikan. Dulu, saat saya masih di SMP, SMP saya adalah SMP yang menurut orang banyak adalah sekolah terbaik di Provinsi tempat saya tinggal. SMP saya banyak memenangi berbagai macam perlombaan yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun sekolah-sekolah se-Kabupaten, Provinsi, dan Nasional. Dan dibalik semua itu pastinya ada orang-orang yang sangat berjasa, yang menjadikan semuanya itu menjadi suatu kebanggaan, tahukah anda siapa orang – orang tersebut? Ya, benar. Guru adalah yang berjasa atas semuanya itu. Tanpa guru, tidak ada seorang Presiden di Indonesia,  tidak ada seorang ilmuwan yang menemukan suatu zat baru tanpa guru yang saat ilmuwan tersebut masih kecil mengajarkan semua pengetahuan dasar kepada ilmuwan tersebut.

Saya sendiri adalah salah satu dari sekian banyak anak-anak yang beruntung di dunia, kenapa? Karena saya mempunyai seorang ayah yang berprofesi sebagai seorang guru. Saya bangga kepada ayah saya yang telah mengajar murid-muridnya sampai murid-muridnya ada yang menjadi seorang pengusaha ataupun anggota DPR, betapa besar jasanya. Namun, dibalik semua itu ada satu hal yang telintas dibenak saya. Mengapa tunjangan untuk guru tidak sebanding dengan tunjangan orang-orang yang bekerja di kantoran? Di Jerman saja tunjangan untuk guru adalah tunjangan terbesar kedua, mengapa di Indonesia tidak? Jerman sudah menyajari bahwa penerus bangsa adalah hal yang terpenting untuk bangsanya oleh sebab itu Jerman sanagat mengutamakan pendidikan dengan cara memperhatikan juga tenaga pengajar dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas. Jika saya menjadi pemimpin di masa depan nanti, mungkin saya akan menerapkan sistem ini.
Ayah saya hanyalah lulusan SPG atau setingkat SMA dulunya, setelah itu langsung mengajar di salah satu sekolah swasta di tempat tinggal saya dengan menjadi guru honorer selama kurang lebih 25 tahun. Gaji guru honorer pada saat itu tidaklah kurang dari satu juta yang mungkin hanya cukup untuk keperluan makan sehari-hari. Namun setelah 25 tahun menjadi guru honorer, ayah saya mengajukan diri untuk mendapatkan beasiswa kuliah dari pemerintah demi melanjutan pendidikannya dan akhirnya mendapatkannya. Itulah yang saya harapkan dari pemeritah, pemerintah juga patut memperhatikan nasib para guru, khususnya guru – guru yang mungkin sampai sekarang  masih menjadi guru honorer. Jangan hanya terus menerus memajukan perekonomian negara, perhatikan juga nasib para guru di Indonesia. Memang benar bahwa pemerintah sudah cukup membantu guru dengan memberikan sertifikasi setiap bulannya. Namun guru-guru tersebut hanyalah guru – guru yang telah memiliki gelar S1, bagamana dengan yang belum memilikinya? Yaitu guru – guru seperti guru honorer?
Pada dasarnya memang ada guru yang benar-benar serius mengajari anak anak muridnya dan selalu datang tepat waktu ke kelas namun ada juga yang tidak seperti itu. Yang saya lihat sekarang ini adalah kebanyakan guru-guru yang tidak bertanggung jawab, yang dimaksudkan adalah sang guru tersebut hanya datang ke kelas, mengisi jurnal kehadirannya, memberikan tugas kepada muridnya, lalu pergi entah kemana. Dan dari pengamatan saya juga bahwa guru-guru yang seperti ini adalah guru-guru di sekolah negeri, bukan di sekolah swasta. Saya tidak mengerti mengapa hal ini terjadi, yang seharusnya guru-guru sekolah negeri merupakan panutan, namun malah berlaku demikian. Memang benar saya membandingkan antara guru sekolah swasta dan guru sekolah negeri, dan pada dasarnya juga hal ini adalah kenyataan. Pada saat saya di SD, saya bersekolah di SD swasta, pada saat saya sekolah di SD tersebut saya tidak pernah mengalami yang namanya guru tidak ada dikelas ataupun guru hanya memberikan tugas lalu pergi. Guru - guru tersebut dengan setia menemani murid-murid dikelas dan menjawab segala pertanyaan yang diberikan oleh muridnya. Namun semua hal itu berubah saat saya melanjutkan sekolah di SMP negeri. Kondisi kelas sangat tidak kondusif. Kadang ada guru yang tidak masuk kekelas dan tidak ada yang menggantikan ataupun memberikan tugas. Akibatnya suasana kelas menjadi ribut dan murid tidak mendapatkan materi pada hari itu. Jika guru tersebut masuk pula, kami hanya diberikan tugas dan harus mengerjakannya sampai selesai, tidak ada komunikasi antara guru dan murid.
Pemerintah Indonesia seharusnya peka terhadap hal-hal seperti ini, dan saya sendiri sebagai seorang pelajar tidak menyukainya karena hal-hal demikian bisa merugikan murid-muridnya bahkan negara kita. Mengapa pemerintah Indonesia tidak membuat suatu sistem yang dapat menertibkan hal-hal merugikan ini, seperti di daerah Merauke yang menerapkan sistem bahwa guru dibayar ditempat setelah sang guru selesai mengajar. Atau mungkin pemerintah bisa memperkerjakan seseorang yang memiliki tugas tertentu sebagai pencatat kedatangan guru maupun menilai sang guru saat di ruang kelas. Hal ini selain dapat menertibkan guru-guru, juga bisa menurunkan tingkat pengangguran yang ada di Indonesia. Saya sangat berharap kepada Pemerintah Indonesia agar permasalahan ini dapat diselesaikan secepatnya sehingga negara kita memiliki generasi penerus yang dapat mengubah negara kita lebih baik dari sebelumnya.
Ada satu hal lagi yang membuat generasi penerus bangsa terhalangi untuk mengeluarkan ide-idenya, yaitu tidak tersedianya fasilitas-fasilitas yang memadai untuk menunjang kegiatan-kegiatannya disekolah. Dan salah satunya yang mengalami hal ini dalah saya sendiri. Disekolah saya, fasilitas yang menunjang kegiatan siswa sangatlah minim. Banyak sekali teman-teman saya yang memiliki bakat namun tidak dapat tersalurkan bakatnya karena fasilitas yang tidak memadai ataupun tidak tersedia. Mereka mengeluhkan hal ini, meskipun sudah banyak teman-teman saya yang mengajukan hal ini kepada sekolah, namun sekolah hanya menganggap remeh akan hal ini dan tidak segera tanggap mengambil keputusan.  Apakah ini yang disebut sebagai sekolah? Yaitu tempat dimana calon penerus bangsa menggali ilmu untuk memajukan negara kita di masa depan? Coba saja fasilitas sangat tersedia, seperti sekolah-sekolah swasta yang kebanyakan memiliki banyak fasilitas yang menunjang kegiatan murid-muridnya, saya yakin Indonesia akan menjadi negara yang maju nantinya karena semua kebutuhan murid -muridnya terpenuhi dan semua ide-idenya tidak terbuang sia-sia.
Dan ada satu hal lagi yang mengganjal di pikiran saya, yaitu kurikulum yang ada di Indonesia. KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Dengan kurikulum ini pemerintah menciptakan banyak sekali anak-anak Indonesia yang memenangi banyak Olimpiade Internasional. Namun, apakah itu yang dibutuhkan pelajar Indonesia? Dengan hanya menghafalkan teori teori tanpa menerapkannya? Coba anda pikirkan, mungkin hal inilah yang selama ini menyebabkan banyak sekali masyarakat Indonesia yang menjadi pengangguran, karena mereka tidak bisa menerapkan tapi hanya bisa menghafalkan. Hal ini berbeda sekali dengan kurikulum yang berada di luar Indonesia. Mereka lebih mementingkan menerapkan daripada menghafalkan. Oleh sebab itu  banyak negara-negara luar yang tidak memenangi Olimpiade Internasional namun kebanyakan adalah Indonesia. Coba anda pikirkan kata-kata saya diatas dan resapi. Negera-negara di luar Indonesia mampu menerapkan pelajaran-pelajaran tidak lain adalah juga karena mereka didukung oleh fasilitas yang lengkap. How about Indonesia? (Bagaimana dengan Indonesia?)
Jadi, menurut saya pendidikan, fasilitas, dan kurikulum sangatlah penting di di Indonesia. Pendidikan di Indonesia sekarang ini membutuhkan guru-guru yang berkualitas dan juga memiliki karakter yang baik. Guru-guru harus memiliki keinginan untuk memajukan Indonesia di dalam dirinya agar disaat mereka mengajar, mereka mengajar dengan serius dan memberikan semua ilmu-ilmunya kepada murid-muridnya. Dan untuk menunjang semua itu, dibutuhkan pula fasilitas yang lengkap agar sang guru dapat menyampaikan materi pelajaran dengan sejelas-jelasnya. Kurikulum yang berkualitas pun dibutuhkan agar sang guru dapat memberikan materi-materi pelajaran yang bermutu kepada murid-muridnya sebagai modal dalam menunjang kemajuan pendidikan Indonesia.